Selasa, 04 Juni 2013

KisahTentang Bal’am bin Ba’ura


NASIB PARA ULAMA’ SU’ PENJILAT PENGUASA

“> وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا<a وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (Al-A'raf: 175-176)
ayat ini mengisahkan tentang kisah isra’iliyat. Tipe dan karakter dalam kisah ini sangat banyak kita saksikan hari ini. Yaitu tipe para ulama’ penjilat yang menjadi corong para penguasa kafir untuk melawan dakwah tauhid dan perjuangan menegakkan syari’at Allah Ta’ala di bumi.

Sebab turunnya ayat
Menurut pendapat yang mashur, orang ini ialah seseorang dari generasi terdahul pada zaman Bani Israel, sebagaimana hal itu disampaikan oleh Ibnu Mas’ud dan ulama salaf lainnya. Aku [ Ibnu Katsir ] berpendapat bahwa ia adalah Bal’am bin Baura. Nasabnya sampai pada Luth bin Haran bin Azar. Ibnu as-Syakir berkata bahwa dialah orang yang mengetahi nama yang agung. Kemudian dia meninggalkan agamanya. Dia disebutkan dalam al qur’an.
Muhammad bin Ishaq bin Yasar meriwayatkan dari Salim Abi an-Nadhar bahwa dia menceritakan tatakala Musa singgah disuatu daerah bani Kan’an, yaitu dibagina wilayah Syiria, maka beliau didatangi oleh kaum Bal’am. Penduduk Kan’an berkata kepada Bal’am, “ Orang ini adalah Musa bin Imran yang berada di tengah-tengah bani Irael. Dia telah datang untuk mengusir kami dari negeri kami sendiri, untuk membunuh kami dan menempatkan bani Irael di sana. Sesungguhnya kami adalah kaummu juga. Kami tidak memiliki tempat tinggal, sedang engkau adalah orang yang makbul do’anya. Pergilah dan do’akanlah mereka [ bani israel ] dengan keburukan. Bal’am berkata : “Celakalah kamu. Nabi Allah itu disertai oleh para malaikat dan kaum mukminin. Bagaimana mungkin aku pergi untuk mendo’akan buruk pada mereka padahal aku mengetahui dari Allah apa yang aku ketahui”.
Kaum Kan’an terus mendesaknya hingga Bal’am pun terfitnah sehingga dia pergi menuju ke sebuah gunung yang dapat mengintai pasukan bani Israel. Gunung itu bernama Husban. Ketika bal’am berada di puncak Husban dan melihat pasukan Musa serta Bani Israel, maka ia mulai mendo’akan buruk kepada mereka. Tidaklah ia mendo’akan buruk kepada mereka kecuali Allah membelokkan lidahnya ke arah kaumnya sendiri. Dan tidaklah dia mendo’akan baik kepada kaumnya melainkan Dia membelokkan lidahnya kepada Bani Israel.
Penduduk Kan’an berkata kepada Bal’am, “ Hai Bal’am, tahukah kamu apa yang telah kau lakukan ?. sesungguhnya engkau mendo’akan kebaikan kepada mereka dan mendo’akan keburukan kepada kami”. Bal’am berkata : Inilah yang tidak aku miliki”. Ini merupakan perkara lain. Sesungguhnya Allah telah menaklukkan Bal’am.
Kemudian ia berkata pada kaumnya, “Sekarang hilanglah sudah dariku dunia dan akhirat. Tidak tersisa lagi padaku kecuali tipudaya dan muslihat. Aku akan melancarkan muslihat bagi kepentinganmu. Dandanilah kaum wanita dan berilah mereka barang dagangan, kemudian kirimkanlah kepada pasukan Musa untuk menjualnya di sana. Suruhlah mereka agar tidak menolak keinginan seseorang yang menghendaki tubuhnya. Sesungguhnya jika salah seorang di antara mereka berzina, maka cukuplah hal itu [ untuk mencelakakan mereka ].”
Lalu kaum Bal’am melakukannya. Setelah kaum wanita memasuki perkemahan pasukan Musa, maka ada seorang wanita Kan’an lewat di dekat seorang bani Israel yang bertubh besar. Ketika dia melihat wanita itu, maka diapun terpesona dan bangkitlah seraya memegang tangannya dan membawanya kepada Musa. Orang itu berkata, “ Aku kira kamu akan mengatakan bahwa wanita ini haram bagiku dan jangan aku dekati.” Musa berkata, “ Benar, wanita ini haram bagimu.” Kemudian orang itu membawa ke kemahnya dan menyetubuhinya.
Kemudian Allah Azza wajalla mengirimkan penyakin ta’un kepada bani Israel. Fanhash bin al-Aizar bin Harun pembantu Musa sedang tidak ada. Kemudian ia datang sementara ta’un sudah merajalela diantara mereka. Dia mendapat informasi yang sesungguhnya. Kemudian ia mengambil sangkurnya yang terbuat dari besi. Ia kemudian memasuki kemah dan ternyata laki-laki dan wanita tersebut sedang berbaring. Kemudian ia menyatukan keduanya dengan sangkurnya. Fanhash keluar membawa keduanya sambil mengacungkannya ke langit. Dia berkata, “Ya Allah, demikianlah yang kami lakukan terhadap orang yang mendurhakaimu.” Maka lenyaplah penyakit ta’un. Jumlah yang tewas mencapai tujuh puluh ribu orang. Sehubungan dengan Bal’am bin Baurah, Allah berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri daripadanya … agar mereka berpikir.”
Friman Allah Ta’ala, “Maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, maka diulurkan lidahnya. Dan jika membiarkannya, maka ia mengeluarkan lidahnya pula.”Yakni, dia menjadi seperti anjing dalam hal kesesatannya dan kesinambungannya dalam kesesatan itu. Hal ini karena diantara kebiasaan anjing ialah mengulurkan lidahnya, apakah dihalau ataupun tidak. Demikian pula dengan bal’am. Tidak lagi berguna baginya ajakan pada keimanan maupun tidak adanya ajakan. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala, “sama saja bagi mereka apakah kamu beri peringatan kepada mereka atau kamu tidak memperingatkan mereka, mereka tidak beriman.” [ Mukhtashor Ibnu Katsir Nashib ar Rifa’I ].
Tentang ayat ini, Sayyid qutub dalam tafsir fidhilalil qur’an juz 19/1397 mengatakan : Berapa banyak dari orang yang ‘alim terhadap din ini kami melihat mereka tahu betul tentang hakekat dinullah kemudian menyeleweng darinya. Dan ia gunakan ilmunya untuk menyimpangkan dinullah dari yang semestinya. Ia berfatwa dengan fatwa yang dipesankan oleh para pungasa yang sesat, dan ia berusaha untuk menguatkan kekuasaan tersebut untuk melawan kekuasaan Allah di bumi secara keseluruhannya. Kami telah melihat dari mereka mengatakan : Sesungguhnya yang berhak membuat syari’at hanyalah Allah Ta’ala. Barang siapa yang mengaku berhak membuat syari’at maka ia telah mengaku telah menuhankan dirinya. Dan barang siapa mengaku dmeikian, maka dia telah kafir. Dan barang siapa mengikutinya, maka dia telah kafir juga ….. bersamaan dengan penyataanya, ia mengajak untuk mentaati taghut yang telah menganggap diri mereka memiliki hak membuat syari’at. Mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan para penguasa itu adalah kebenaran, yang padahal mereka telah mengkafirkan para pembuat syari’at. Mereka menganggap para penguasa tersebut muslimin. Dan mereka menganggap ketergelinciran penguasa tersebut masih menjadikannya sebagi seorang muslim, padahal tidak ada keislaman setelahnya.
Pelajaran yang dapat diambil
Generasi Bal’am hari sangat banyak. Mereka yang mencela jihad dan mujahidin dan menuduh para penegak syari’at dengan para perusuh dan pengacau agama. Sebaliknya, mereka membela para taghut dan musuh-musuh islam dengan lesan dan tulisan mereka serta selalu berhusnudhon kepada musuh dengan ta’wil-ta’wil yang batil. Inilah generasi Bal’am yang Allah Ta’ala ibaratkan mereka seperti anjing karena telah menjual din mereka dengan secuil dari kenikmatan dunia agar diri mereka aman dari musuh-msuh Allah Ta’ala.
Betapa para ulama’ su’ hari ini telah memberikan fatwa yang mengorbankan ummat sertaa bumi-bumi kaum muslimin untuk diduduki musuh-musuh Allah Ta’ala. Apa yang akan kita katakan kepada mereka yang telah menguatkan kekuasaan para penguasa kafir dan bersekutu dengan musuh-musuh Allah untuk memerangi jihad dan mujahidin ?. Dan bagaimanakah hukum mereka yang telah bersekutu dengan para taghut untuk menangkap, memenjarakan, mengintimidasi dan bahkan membunuh para du’at yang jujur dan mukhlis ini ?. Jelas bahwa ini adalah kekafiran. Karena tolong menolong dengan orang kafir dalam rangka memusuhi kaum muslimin adalah kekafiran.
Sebagai penutup, marilah kita simak hadist Nabi sallallahu alaihi wasallam : Diriwayatkan oleh Hafidz Abu Ya’la dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah seorang yang mengerti Al-Qur’an hingga nampak kewibawaan pada dirinya dan dia senantiasa bersorbankan Islam, lalu Allah mengujinya hingga dia keluar dari jalur Islam dan meletakkan Islam di belakang punggungnya dan mengangkat pedang (senjata) atas tetangganya dan menuduhnya Musyrik (atas tuduhan syirik). Berkata Hudzaifah: “aku bertanya: Wahai Nabi Allah manakah di antara keduanya yang lebih layak dikatakan Musyrik, yang dituduh atau yang menuduh?” beliau bersabda: “yang menuduh!”. Isnad hadits ini jayyid dan diperkuat oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Mu’in dan lainnya. Tafsir Ibnu Katsir Juz 3, hal, 252. [ Amru ].

Setiap orang -di antara ahli ilmu- yang mementingkan dunia dan mencintainya, niscaya dia akan mengatakan sesuatu terhadap Allah l tanpa dasar al-haq dalam fatwa, keputusannya tentang berita dan pengharusannya. Sebab hukum-hukum Allah l kebanyakan datang dalam bentuk yang menyelisihi ambisi/tujuan manusia. Terlebih lagi para pemegang kepemimpinan dan orang-orang yang selalu mengikuti syubhat. Karena bagi golongan ini, tidaklah sempurna terwujudnya ambisi mereka kecuali dengan menyelisihi al-haq dan menolaknya lebih banyak.
Sehingga, apabila seorang yang berilmu atau pengambil keputusan (hakim), sama-sama mencintai kedudukan, mengikuti syahwat, tentulah tidak sempurna dia meraih ambisinya kecuali dengan menjauhkan segala sesuatu yang menentangnya; berupa kebenaran. Terlebih jika dia mempunyai syubhat, maka bersesuaianlah syubhat dan syahwat tersebut. Bermainlah hawa nafsu, tersamarlah kebenaran, menjadi suramlah wajah kebenaran. Meskipun kebenaran itu sangat jelas, tidak samar, dan tidak pula mengandung syubhat, dia tetap melangkah, menentangnya, bahkan mengatakan: “Saya punya jalan keluar (yaitu) taubat.”
Tentang orang-orang dari golongan inilah firman Allah l:
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya.” (Maryam: 59)
Allah l juga berfirman tentang mereka:
“Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: ‘Kami akan diberi ampun’. Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?” (Al-A’raf: 169)
Allah l terangkan bahwa mereka mengambil harta benda yang rendah ini dalam keadaan mereka mengetahui keharamannya, bahkan berani mengatakan bahwa “Kami akan diberi ampun.” Dan jika datang kepada mereka harta benda lainnya, niscaya mereka tetap dalam keadaan demikian. Itulah yang menjadi pendorong bagi mereka untuk mengatakan sesuatu terhadap Allah l tanpa dasar al-haq. Sehingga mereka akan mengatakan: “Inilah hukum-Nya, syariat dan dien-Nya,” dalam keadaan mereka mengetahui bahwa dien-Nya, syariat dan hukum-Nya menyelisihi apa yang mereka ucapkan.
Atau memang mereka tidak tahu bahwa itu adalah dien-Nya, syariat dan hukum-Nya. Sehingga kadang-kadang mereka mengatakan sesuatu terhadap Allah l apa yang tidak mereka ketahui. Dan suatu ketika mereka mengucapkan sesuatu terhadap-Nya berupa apa-apa yang sudah mereka ketahui kebatilannya.
Adapun mereka yang bertakwa, maka mereka mengerti bahwa kampung akhirat itu lebih baik daripada dunia ini, sehingga kedudukan sebagai pemimpin dan syahwat itu tidak akan mendorong mereka mementingkan urusan dunia daripada akhirat.
Sementara jalan untuk itu adalah dengan berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah, meminta tolong (kepada Allah l) melalui kesabaran dan shalat serta merenungi keadaan dunia, kehancuran dan kerendahannya, serta akhirat yang pasti tiba dan abadi.
Sedangkan mereka ini, mau tidak mau akan mengada-adakan kebid’ahan di dalam urusan dien ini disertai dengan kejahatan dalam beramal. Sehingga bertumpuklah dua perkara ini pada mereka. Karena sesungguhnya mengikuti hawa nafsu akan membuat buta mata hati, sehingga dia tidak mampu membedakan mana yang sunnah mana yang bid’ah. Atau terjungkir balik, melihat bid’ah itu sebagai sunnah, dan As-Sunnah sebagai kebid’ahan.
Inilah kerusakan para ulama jika mereka lebih mengutamakan urusan dunia, mengikuti kedudukan dan syahwat. Ayat-ayat ini pantas buat mereka, sampai juga firman Allah l di atas:
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).”
Maka inilah perumpamaan orang alim yang buruk, yang berbuat (sesuatu yang) menyelisihi ilmunya.
Perhatikanlah kandungan ayat ini, betapa tercelanya dia:
1. Dia tersesat sesudah dia memiliki ilmu, memilih kekafiran daripada keimanan dengan sengaja, bukan karena jahil (tidak tahu).
2. Dia memisahkan diri dari keimanan dengan perpisahan yang tidak mungkin kembali kepadanya selama-lamanya. Karena dia lepas dari ayat-ayat itu secara total, seperti lepasnya ular dari kulitnya. Andaikata masih tersisa padanya secuil keimanan itu, niscaya dia tidaklah lepas/tanggal darinya.
3. Bahwasanya setan mendapatkan dan menyusulnya, di mana setan itu berhasil menguasai dan memangsanya. Sebab itulah Allah l mengatakan: فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ (lalu dia diikuti oleh setan), dan tidak mengatakan تَبِعَهُ (mengikutinya), karena pada kata أَتْبَعَهُ terkandung pengertian adrakahu (mendapatkannya) dan lahiqahu (menyusulnya) yang lebih sempurna daripada lafadz tabi’ah baik dari segi lafadz dan makna.
4. Dia menyimpang padahal dahulunya dalam keadaan lurus. Al-Ghay adalah kesesatan dalam ilmu dan tujuan (niat). Ini lebih khusus berkaitan dengan kerusakan niat dan amal. Sebagaimana kesesatan itu lebih khusus berkaitan dengan kerusakan ilmu dan i’tiqad. Sehingga jika dipisahkan salah satunya, masuklah yang lain ke dalamnya, dan kalau bergandengan, maka terpisahlah pengertian keduanya.
5. Bahwasanya Allah l menerangkan tentang rendahnya kemauannya, di mana dia lebih memilih sesuatu yang rendah daripada yang lebih tinggi.
6. Allah l tidak hendak mengangkat derajatnya dengan ilmu itu, sehingga hal itu menjadi sebab kebinasaannya. Karena diapun tidak naik derajatnya dengan ilmu tersebut, akhirnya ilmu itu menjadi bencana baginya. Maka seandainya dia bukan orang yang berilmu, tentu itu lebih baik bagi dia dan lebih ringan azabnya.
7. Dia memilih yang rendah, bukan karena lintasan pikiran dan bisikan jiwanya, tetapi karena kecenderungannya kepada dunia secara total. Asal kata ikhlaad (dalam ayat) maknanya adalah terus dan selalu. Seolah-olah dikatakan dia lebih cenderung kepada dunia. Diungkapkan kecenderungan itu dengan kata ardh (bumi) karena dunia itu adalah bumi, semua yang ada padanya dan apa-apa yang dikeluarkan, berupa perhiasan maupun harta benda.
8. Dia tidak menyukai hidayah-Nya, lebih suka mengikuti hawa nafsunya, lalu menjadikan hawa nafsunya sebagai imam yang diteladani dan diikuti.
9. Dia diserupakan dengan seekor anjing; hewan yang paling rendah kemauannya, paling jatuh nilainya, paling bakhil dan paling parah kalab (kerakusan) nya, sehingga dinamakan kalb.
10. Diserupakan juluran lidahnya terhadap dunia, ketidaksabaran dan keluhannya (bila) kehilangan dunia, semangatnya memperoleh dunia sebagaimana juluran lidah anjing dalam dua keadaannya; dibiarkan atau dihalau dengan usiran dan seterusnya.
Hal ini, kalau dibiarkan, dia menjulurkan lidahnya terhadap dunia dan kalau diberi peringatan atau teguran, dia juga seperti itu, tetap menjulurkan lidah. Jadi, menjulurkan lidah ini, tidak dia tinggalkan dalam segala keadaan, seperti halnya seekor anjing.
Kata Ibnu Qutaibah t: “Segala sesuatu yang menjulurkan lidahnya, adalah ketika dia haus atau keletihan, kecuali seekor anjing. Karena dia menjulurkan lidahnya dalam keadaan tenang dan istirahat, kehausan ataupun tidak. Sehingga Allah l buat perumpamaan ini bagi orang-orang kafir, (seolah-olah) Allah l berkata: ‘Kalau engkau menasihatinya, dia tetap sesat. Dan kalau engkau biarkan dia, maka dia juga sesat. Seperti seekor anjing, kalau engkau mengusirnya, dia menjulurkan lidah, dan kalau engkau membiarkan dia seperti itu, maka dia tetap menjulurkan lidahnya’.”
Perumpamaan ini, tidak mutlak pada semua anjing, tapi hanya anjing yang selalu menjulurkan lidah. Hal itu merupakan keadaan paling rendah dan paling buruk.
Dalam kitabnya yang lain (Tafsir Ibnul Qayyim), Ibnul Qayyim t menerangkan tafsir ayat ini:
Allah l menyerupakan orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, diajari-Nya ilmu, yang Dia halangi orang selain dia memahaminya, lalu orang yang telah memiliki ilmu ini tidak mengamalkannya dan mengikuti hawa nafsunya serta mengutamakan kemarahan Allah l daripada keridhaan-Nya, mementingkan dunia daripada akhirat, mengedepankan makhluk daripada Khaliqnya, (seperti) seekor anjing.
Padahal jelas-jelas anjing itu seburuk-buruk binatang bahkan paling rendah derajat dan nilainya. (Hewan) yang tekad dan kemauannya tidaklah melampaui perutnya, paling parah kejahatan dan ketamakannya.
Di antara bentuk ketamakannya, dia tidak berjalan melainkan moncongnya senantiasa mendekati tanah, mencium dan menghirupnya. Dia selalu mencium duburnya sendiri, bukan bagian tubuhnya lain. Jika kamu melemparkan batu ke arahnya niscaya dia kembali mendatangi batu itu untuk menggigitnya karena rakusnya yang keterlaluan. Binatang paling hina, paling rela menerima dunia.
Bangkai kotor yang busuk lebih disukainya daripada daging segar. Najis dan kotoran lebih dia senangi daripada manisan. Kalau dia menemukan bangkai yang cukup untuk seratus ekor anjing, maka dia tidak akan biarkan seekor anjing lain mendekatinya melainkan dia usir karena ketamakan dan kekikirannya.
Kalau dia melihat orang yang berpakaian dekil, buruk, niscaya dia menggonggongnya dan mengusirnya, seolah-olah orang itu menyainginya dan merebut kekuasaannya. Tapi kalau dia melihat orang yang berbaju indah, rapi dan berkedudukan, maka dia rendahkan moncongnya ke tanah, merunduk, dan tidak berani mengangkat kepalanya kepada orang tersebut.

Waspadailah Fitnah Orang Alim yang Fajir dan ‘Abid yang Jahil
Demikianlah keadaan orang alim yang lebih mementingkan urusan dunia daripada akhirat. Adapun ‘abid (ahli ibadah) yang jahil (bodoh terhadap urusan diennya), maka kerusakannya ialah berupa sikap menjauhnya dia dari ilmu dan hukum-hukumnya, dikuasai oleh khayalan dan perasaannya, serta apa-apa yang diinginkan oleh hawa nafsunya.
Oleh sebab itulah Sufyan bin ‘Uyainah t mengatakan: “Jauhilah fitnah orang alim yang fajir (jahat) dan fitnah ‘abid yang jahil, karena fitnah keduanya adalah fitnah bagi segenap orang yang terfitnah. Yang satu dengan kejahilannya, dia menghalangi manusia dari ilmu dan konsekuensinya. Dan yang satu dengan kesesatannya (ghay), dia mengajak manusia kepada perbuatan-perbuatan keji.”
Allah l telah memberikan perumpamaan contoh jenis kedua, dengan firman-Nya:
“(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: ‘Kafirlah kamu’, maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Rabb semesta alam.’ Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.” (Al-Hasyr: 16-17)
Ibnu Katsir t menceritakan:
Konon, di zaman Bani Israil dahulu ada seorang rahib yang tekun beribadah selama 60 tahun. Setan ingin menggodanya tapi selalu gagal. Akhirnya setan mendatangi seorang wanita lantas membuatnya gila. Wanita itu sendiri mempunyai beberapa saudara laki-laki. Setan kemudian membisikkan kepada saudara-saudaranya agar membawanya kepada rahib tersebut untuk diobati. Wanitapun diobati rahib itu dan tetap tinggal di sana.
Suatu hari, ternyata wanita itu menarik hati si rahib. Diapun menggaulinya hingga wanita itu hamil. Melihat kenyataan ini si rahib takut namanya tercemar lalu membunuh wanita tersebut. Kemudian datanglah saudara-saudara wanita itu. Ternyata saudara mereka pun dibunuh oleh rahib itu.
Akhirnya, setan datang menemui si rahib dan mengatakan: “Aku temanmu, kamu selalu membuatku payah, dan akulah yang mengatur kejadian ini. Kalau kamu menaatiku pasti aku selamatkan kamu. Sujudlah kamu kepadaku.”
Rahib itupun sujud kepadanya dan setelah dia sujud, setan berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah Rabb semesta alam.”
Demikianlah sepenggal kisahnya.
Jadi, pangkal kekafiran kaum Yahudi adalah tidak mengamalkan ilmu yang sudah dimiliki. Mereka sudah mengetahui al-haq tapi tidak membuktikannya dalam bentuk kerja nyata (amal). Adapun kekafiran kaum Nashara dari sisi pengamalan mereka yang tidak didasari ilmu. Mereka bersungguh-sungguh dalam berbagai jenis ibadah tanpa dasar syariat dari Allah l dan mengatakan sesuatu terhadap Allah l tanpa ilmu.
Semoga Allah l merahmati Ibnul Mubarak t yang mengatakan:
رَأَيْتُ الذُّنُوبَ تُمِيْتُ الْقُلُوْبَ  * وَقد يُوْرِثُ الذُّلَّ إِدْمَانُهَا
وَتَرْكُ الذُّنُوبِ حَيَاةُ الْقُلُوبِ * وَخَيْرٌ لِنَفْسِكَ عِصْيَانُهَا
وَهَلْ أَفْسَدَ الدِّيْنَ إِلاَّ الْمُلُوكُ * وَأَحْبَارُ سُوْءٍ وَرُهْبَانُهَا
Aku melihat dosa itu mematikan hati
terus menerus berbuat dosa mewariskan kehinaan
Meninggalkan dosa (sebab) hidupnya hati
menentangnya lebih baik bagi dirimu
Tiadalah yang merusak dien ini melainkan para raja
ulama jahat dan para pendetanya
Maka bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku menjadi ulama akhirat yang cerdas.
Dan jauhilah kedunguan orang-orang yang dangkal pikirannya, pendeknya akal ahli dunia yang bebal.
Alangkah indahnya ungkapan Al-Imam Asy-Syafi’i t berikut ini:
إِنَّ لِلهِ عِبَـاداً فُطَـنَا  * طَلَّقُوا الدُّنْيَا وخَافُوا الْفِتَنَا
نَظَرُوا فيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا * أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا جَعَلُوهَا لُجَّةً واتَّخَذُوا * صَالِحَ الْأَعْمَالِ فِيهَا سُفُنَا
Sungguh Allah l memiliki hamba-hamba yang cerdas
Yang tinggalkan dunia karena takut fitnahnya
Mereka cermati dunia, dan setelah tahu
Kiranya dunia bukan tempat kehidupan (sejati)
Mereka jadikan dia bak gelombang
dan siapkan amalan shalih sebagai perahu menyeberanginya.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar